logo

Benarkah Demokrasi Haram? | Konsultasi Muslim



Betapa banyak kita dengar kata-kata yang didengungkan oleh orang-orang yang tidak paham hukum dan tidak paham kondisi kita di Indonesia. Mereka mengatakan bahwa demokrasi itu haram karena bukan berasal dari Islam, karena Islam mengajarkan sistem musyawarah bukan demokrasi, begitu juga nyoblos. Tidak ada kewajiban bagi ummat Islam untuk ikut nyoblos karena itu berasal dari negara-negara barat.

Benarkah haram?

Saudaraku, tidak semua yang berasal dari negara-negara barat, lantas tidak ada manfaatnya, tidak ada efeknya kepada ummat Islam dan tidak ada dampaknya bagi kejayaan islam. Terutama di negara kita tercinta ini yang memakai sistem demokrasi. Mau tidak mau kita harus mengikuti nya.

Loh, kok harus mengikutinya?

Karena jika ummat Islam tidak peduli dengan politik, maka bersiaplah ummat Islam dipimpin oleh orang-orang yang tidak peduli dengan Islam.

Siapa yang mau dipimpin oleh orang-orang kafir? Siapa yang mau dipimpin oleh orang-orang yang tidak peduli dengan Islam? Tentunya tidak ada.

Ketika kau diberi hak untuk memilih kau abaikan. Giliran sudah terpilih pemimpin dari agama lain untuk memimpin baru kau berkoar koar di Media Sosial. Dulu kau ke mana saja saudaraku? Cerdaslah dalam berfikir.

Maka dari itu kita diperintahkan untuk mencegah datangnya kemudorotan. Di dalam qoidah ushul fiqh disebutkan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menolak kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat

Bagaimana cara menolak datangnya kemudorotan tersebut? Yaitu dengan cara ikut berpartipasi di dalam demokrasi dan kalau perlu menjadi anggota DPR agar bisa memperjuangkan hak-hak ummat Islam dan ummat Islam harus ikut nyoblos dan jangan golput.

Coblos calon pemimpin yang amanah dan dekat kepada ulama dan peduli kepada ummat Islam dan mau mensejahterakan masyarakat. Jika dia dikira bisa menjaga amanah itu, maka pilihlah dia.

Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa' : 58).”

Dalam menentukan suatu hukum, tidak cukup hanya melihat dari satu sisi saja. Kalau tidak diajarkan di dalam Islam lantas haram. Kaku sekali pemikiran orang-orang yang berfikir seperti itu.

Islam itu tidak kaku, dan dasar pengambilan hukum bukan hanya berpatokan kepada Al-Qur'an dan Hadist yang jika di keduanya tidak ada lantas haram. Islam tidak sekaku itu saudaraku.

Ada al-Maslahah al-Mursalah (Sesuatu yang bersifat kebaikan bagi umum) dan di dalam ilmu ushul al-Maslahah al-Mursalah termasuk ke dalam Mukhtalaf Fiihadan dijadikan dasar pengambilan hukum. Salah satu ulama yang memakai hukum ini adalah Imam Malik rohimahullah.

Dasar pengambilan dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Tidaklah semata-mata aku mngutusmu (muhammad) kecuali untuk kebaikan seluruh alam. (QS .Al-Anbiya' : 107).”

Nah, jadi jika sesuatu yang sekiranya bisa membawa kebaikan bagi umum, maka hal itu dipakai di dalam Islam. Contohnya adalah nyoblos dan demokrasi seperti di atas. Mau tidak mau, suka tidak suka ummat Islam harus ikut berpartisipasi di dalam nya. Jika tidak, maka ummat Islam akan akan dipimpin oleh orang-orang yang tidak peduli dengan Islam.

Kesimpulan :

1. Ummat Islam harus ikut berpartisipasi dalam hal demokrasi dan nyoblos. Kalau perlu ummat Islam duduk menjadi anggota DPR agar bisa memperjuangkan hak-hak ummat Islam.

2. Demokrasi dan nyoblos termasuk ke dalam al-Maslahah al-Mursalahsehingga hukumnya tidak haram, tapi hukumnya boleh.

3. Ummat Islam harus nyoblos, karena kalau sampai golput dan yang menjadi pemimpin orang-orang yang tidak peduli dengan Islam, maka bisa merugikan ummat Islam itu sendiri. Dan bisa saja mereka menghapus salah satu dari syari'at Islam. Na'udzubillah. Maka nyoblos lah.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.