logo

Belum di Aqiqah di Waktu Kecil, dilarang Berkurban? | Konsultasi Muslim



Para ulama mazhab tidak pernah membuat peraturan di dalam hal berkurban bahwa syarat sah nya kurban adalah dia sudah di aqiqahi.

Maka hal ini tidak lah benar karna aqiqah hukumnya sunnah, sebagaimana disebutkan di dalam kitab fiqih Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid :

و ذهب الجمهور إلى أنها سنة

Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa aqiqah hukumnya sunnah. (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, jilid 1 halaman 698).

Jadi, ibadah sunnah tidak bisa menjadi syarat sah nya amalan lain. Karna ibadah kurban juga sunnah menurut Imam Syafi'i dan Imam Malik.

Di dalam kitab fiqih Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid :

فذهب مالك و الشافعي إلى أنها من السنن المؤكدة

Imam Malik dan Imam Syafi'i mengatakan bahwa kurban hukumnya sunnah yang dikuatkan. (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, jilid 1 halaman 648).

Jadi sesama ibadah sunnah tidak bisa menjadi penentu sahnya ibadah yang lainnya. Kenapa tidak bisa menjadi penentu? Karna tidak ada hubungannya antara aqiqah dengan kurban.

Aqiqah yang berhak atasnya adalah ayah nya. Dan ayahnya yang bertanggung jawab mengaqiqahkan dia. Sedangkan kurban jika dia sudah mampu, maka sunnah muakkadahuntuk berkurban, bahkan menurut Imam Abu Hanifah hukum berkurban itu wajib. Yang perlu diketahui bahwa ibadah kurban dan aqiqah bukanlah satu paket. Tapi berbeda penerapannya walaupun sama-sama sunnah.

Aqiqah yang berhak adalah ayah si anak atau orang yang memberi nafkah si anak. Sedangkan ibadah kurban ditujukan kepada siapa saja di antara ummat Islam yang sudah mukallaf (sudah baligh) dan dia mampu berkurban. Oleh sebab itu, tidak ada kaitannya sama sekali di antara keduanya.

Maka dari itu 2 hal ini tidak bisa dikaitkan seperti hal nya whudu' dan shalat. Di mana shalat tidak sah tanpa whudu' atau bersuci.

Rasulullah bersabda :

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ

“Tidak diterima shalat kecuali dengan thoharoh (Bersuci).” (HR. Muslim, hadist no. 224).

Nah, antara whudu' dan shalat itu ada keterkaitan dan whudu' menjadi salah satu syarat sah nya shalat. Beda dengan aqiqah dan kurban yang tidak ada keterkaitan sama sekali.

Memang pada dasarnya di dalam mazhab Syafi'i seorang Anak jika sudah dewasa, sementara dia belum aqiqah di waktu kecilnya, maka dia bisa mengaqiqahi dirinya sendiri.

Di dalam kitab fiqih Fathul Qorib disebutkan :

ولو مات المولود قبل السابع فلا تفوت بموته ولا تفوت العقيقة بالتأخير بعده أى بعد يوم السابع فإن تأخرت أى الذبيحة للبلوغ سقط حكمها فى حق العاق عن المولود أى فلا يخاطب بها بعده لانقطاع تعلقه بالمولود حينئذ لاستقلاله أما هو أى المولود بعد بلوغه فمخير فى العق عن نفسه والترك فإما أن يعق عن نفسه أو يترك العقيقة, لكن الأحسن أن يعق عن نفسه تداركا لما فات

Sekalipun bayi wafat sebelum hari ketujuh, maka kesunnahan aqiqah tidak gugur. Kesunnahan aqiqah juga tidak luput karena tertunda hingga hari ketujuh berlalu. Kalau penyembelihan aqiqah ditunda hingga anak tersebut baligh,maka hukum kesunnahannya gugur bagi si orang tua. Artinya mereka tidak lagi disunahkan mengaqiqahkan anaknya yang sudah baligh karena tanggung jawab aqiqah orang tua sudah terputus karena kemandirian si anak. Sementara agama memberikan pilihan kepada seseorang yang sudah baligh untuk mengaqiqahkan dirinya sendiri atau tidak. Tetapi baiknya, dia mengaqiqahkan dirinya sendiri untuk menyusul sunah aqiqah yang luput di waktu kecilnya.

Akan tetapi apabila waktunya dekat kepada waktu berkurban, maka dahulukan berkurban daripada Aqiqah. Jadi, jika misalnya hanya punya dana untuk membeli salah satunya, maka pilih yang paling dekat waktunya terlebih dahulu.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

إِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَصَالِحُ قُدِّمَ اْلأَعْلَى مِنْهَا

Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan.

Karena waktu kurban sudah dekat sedangkan waktu untuk aqiqah masih bisa dilaksanakan sesudah Idul Adha jika punya uang untuk aqiqah tersebut.

Kesimpulan :

Sekalipun seorang muslim belum di aqiqahi di waktu kecil, tapi dia berkurban, maka kurban nya tersebut sah. Kenapa? Karna aqiqah bukan syarat sahnya kurban dan para ulama tidak pernah membuat peraturan seperti itu.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.