logo

Beli Tanah Dengan Uang Riba, Bolehkah? | Konsultasi Muslim


Pertanyaan :

Assalamualaikum ust. Ana Mau bertanya.  Ana baru beli tanah dengan uang bank, lalu saya dengar dari ust. Dikampung ana,  bahwa uang bank itu  riba, tapi sudah terlanjur ust. Lalu bagaimana dg tanah dan hasilnya apakah tetap riba atau haram, syukron ust.

Dari : Rahmawadi
Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp
Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

Sebagaimana yang diketahui, bahwa riba termasuk dosa besar dan orang yang berbuat riba dilaknat oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melaknat pemakan riba, orang yang menyerahkan riba, pencatat riba dan dua orang saksinya. Beliau mengatakan : Mereka semua itu sama. (HR. Muslim)."

Lalu bagaimana dengan hasil yang didapat dari tanah tersebut ustadz?

Jika lahannya sesuatu yang Allah haramkan, otomatis apa-apa yang ditanam dan menghasilkan itu adalah sesuatu yang juga haram.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

ما حرم فعله حرم طلبه

Sesuatu yang haram untuk dikerjakan maka haram pula mencarinya.

Artinya jika hal tersebut didapat dari cara yang haram, maka juga apa-apa yang didapat darinya juga haram. Dan haram menggunakannya dan memberikannya kepada orang lain.

Bagaimana misalnya dia memberikan hadiah kepada orang lain dengan hasil riba ustadz? Halalkah bagi yang menerimanya?

Adapun jika uang tersebut didapat dari harta riba, maka hanya haram bagi dirinya sendiri.
Namun ketika dia berikan kepada kepada orang lain, maka hal itu berubah hukumnya seperti hadiah. Begitu pula jika dia misalnya berbelanja di warung, maka uangnya halal bagi si pemilik warung tersebut karena didapat dari cara yang halal yaitu berjualan.

Adapun harta riba tersebut haram bagi yang menjalankan saja. Bukan bagi yang lainnya.

Sebuah qoidah menyebutkan :

أن ما حُرِّم لكسبه فهو حرام على الكاسب فقط، دون مَن أخذه منه بطريق مباح

Sesuatu yang diharamkan karena usahanya, maka dia haram bagi orang yang mengusahakannya saja, bukan pada yang lainnya yang mengambil dengan jalan yang boleh.

Lalu bagaimana solusi keluar dari riba tersebut?

1. Bertaubat kepada Allah. Meminta ampun atas dosa riba yang telah dilakukan selama ini.

2. Tanah tersebut bisa diwakafkan untuk kepentingan umum ataupun kepentingan agama seperti mendirikan masjid atau sekolahan dan sebagainya.

3. Tanah tersebut bisa dijual dan kemudian hasil dari penjualannya diberikan kepada yang membutuhkan, seperti panti asuhan, perbaikan jalan dan sebagainya.

Bolehkah diberikan kepada lembaga agama ustadz?

Jawabannya boleh.

Imam An-Nawawi rohimahullah berkata :

قَالَ الْغَزَالِيُّ إذَا كَانَ مَعَهُ مَالٌ حَرَامٌ وَأَرَادَ التَّوْبَةَ وَالْبَرَاءَةَ مِنْهُ فَإِنْ كَانَ لَهُ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ وَجَبَ صَرْفُهُ إلَيْهِ أَوْ إلَى وَكِيلِهِ فَإِنْ كَانَ مَيِّتًا وَجَبَ دَفْعُهُ إلَى وَارِثِهِ وَإِنْ كَانَ لِمَالِكٍ لَا يَعْرِفُهُ وَيَئِسَ مِنْ مَعْرِفَتِهِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَصْرِفَهُ فِي مَصَالِحِ الْمُسْلِمِينَ الْعَامَّةِ كَالْقَنَاطِرِ وَالرُّبُطِ وَالْمَسَاجِدِ وَمَصَالِحِ طَرِيقِ مَكَّةَ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا يَشْتَرِكُ الْمُسْلِمُونَ فِيهِ

Al-Ghozali berkata : Jika dia memiliki harta haram dan ingin bertaubat dan berlepas dari harta tersebut maka jika harta tersebut ada pemiliknya maka wajib untuk dikembalikan kepadanya atau kepada wakilnya, jika pemiliknya telah meninggal maka harta tersebut wajib diserahkan kepada ahli warisnya. Dan jika pemiliknya tidak diketahui dan dia sudah putus asa untuk mengetahui pemiliknya maka hendaknya dia salurkan harta tersebut kepada kemaslahatan-kemaslahatan umum kaum muslimin, seperti pembuatan jembatan-jembatan, pondok-pondok, masjid-masjid, kepentingan jalan  Mekah dan seperti itu yang mana sama-sama digunakan oleh kaum muslimin. (Majmu' Syarah Muhadzab, jilid 9 halaman 351).

Dan memberikan harta riba kepada kepentingan umum hukumnya boleh menurut para ulama.

Semoga bermanfaat dan bisa dipahami.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.