logo

Bayar Hutang Dulu atau Membantu Saudara Yang Membutuhkan? | Konsultasi Muslim



Seperti yang kita ketahui bahwa membayar hutang hukumnya wajib. Dan sesuatu yang wajib, maka di dalam Islam harus didahulukan daripada sesuatu yang sunnah atau dianjurkan.

Sebuah qoidah mengatakan :

تقدم الفرائض على النوافل

Sesuatu yang wajib harus didahulukan dari yang sunnah (Yang dianjurkan).

Dan membayar hutang jika sudah jatuh tempo pembayarannya, maka wajib dibayar sesuai dengan aqad di awal.

Lalu bagaimana jika mempunyai hutang, dan sudah punya uang untuk melunasinya, tapi saudara membutuhkan bantuan?

Di dalam sebuah qoidah fiqih disebutkan :

إِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَصَالِحُ قُدِّمَ اْلأَعْلَى مِنْهَا

Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan.

Nah, di sini bisa dibagi kepada 2 hal :

1. Jika misalnya saudara lebih membutuhkan bantuan, dan sangat mendesak, maka harus mendahulukan dengan syarat: "Meminta izin kepada yang di hutangi untuk memberikan kelonggaran waktu" karena ada sesuatu yang penting yang harus dibantu.

Jadi dalam hal ini, apabila orang yang berhutang meminta izin, maka orang yang di hutangi harus memberikan kelonggaran waktu kepada orang yang berhutang.

Allah berfirman :

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika orang yang berhutang itu dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan sebagian atau semua utang itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 280).”

Kenapa harus diberi tenggang waktu? Karena dia mempunyai kemaslahatan yang tidak kalah penting nya, walaupun membayar hutang hukumnya wajib dan harus didahulukan. Akan tetapi karena 2 perkara yang penting bertemu, maka dia dahulukan saudara nya yang mungkin lebih membutuhkan bantuan.

Nah, jika orang yang di hutangi mengizinkannya, hukumnya boleh mendahulukan membantu saudara daripada membayar hutang, dengan syarat harus meminta izin kepada yang di hutangi terlebih dahulu.

Sebuah qoidah ushul fiqh Menyebutkan :

الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما

Hukum itu berputar beserta 'illatnya, baik dari sisi wujudnya maupun ketiadaan 'illatnya.

2. Jika saudara nya tidak terlalu membutuhkan bantuan, maka tetap harus mendahulukan membayar hutang. Karena hukum membayar hutang adalah wajib.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya di hari kiamat nanti karena di sana di akhirat tidak ada lagi dinar dan dirham. (HR. Ibnu Majah, hadist no. 2414).”

Itulah pentingnya membayar hutang kepada orang yang kita hutangi, karena jika tidak segera melunasinya, dan dia meninggal dalam keadaan berhutang kemudian tidak ada yang melunasinya, maka dia akan membayar dengan kebaikan nya di akhirat nanti.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.