logo

Batilnya Pernyataan Menikah Harus Semanhaj | Konsultasi Muslim



Entah dari mana asal pendapat yang mengatakan bahwa pernikahan harus semanhaj. Alasannya simple, agar tidak terjerumus kedalam bid'ah.

Ini adalah pernyataan yang sesat dan menyesatkan. Karena Islam tidak pernah mengkotak-kotakkan menikah harus dengan yang sepemahaman dengan kita. Namun Islam hanya mengatur harus seiman dengan kita.

Allah berfirman :

وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Dan sungguh wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al-Baqarah : 221).

Begitupun sebaliknya, wanita Muslimah haram secara mutlaq menikah dengan lelaki "Non Muslim".

Adapun menikah dengan sesama Muslim dan selama dia masih Ahlus Sunnah, maka boleh hukumnya dan tidak ada dalil yang melarangnya.

Kan nanti jika tidak sepemahaman bisa pisah, kan masalah?

Sebenarnya orang yang masih mempermasalahkan masalah harus satu manhaj lah, harus satu mazhab lah. Disebabkan dia tidak tau banyak tentang ilmu agama. Berbeda dalam furu'iyyah itu di toleransi di dalam Islam. Selama tidak berbeda dalam hal aqidah. Dan sedangkan didalam aqidah saja para ulama juga berbeda pendapat. Tapi tidak lantas karena berbeda pendapat saling tuduh sebagai Ahlul Bid'ah lah, sesat lah dan sebagainya. Padahal yang dituduh itu sesama Ahlus Sunnah dan sama-sama berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Hadist dan amalannya berdasarkan dalil. Hanya karena berbeda pendapat menuduh saudara sesama muslim.

Inilah pemahaman yang keliru. Mungkin dia menganggap ketika dia sudah memegang satu pendapat ulama itu kebenarannya mutlaq 100%. Tidak begitu. Kadang-kadang juga yang dia pegang itu ijtihad bukan dalil.

Sedangkan di dalam qoidah fiqih menyebutkan sebuah ijtihad tidak bisa membatalkan ijtihad lainnya.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

الإجتهاد لا ينقد بالإجتهاد

Ijtihad tidak bisa dibatalkan dengan ijtihad lainnya.

Yang bisa membatalkan ijtihad hanyalah dalil.

Jadi jangan hanya karena dia tidak ngaji di TV ini, tidak dengar radio ini lantas dianggap sebagai musuh. Apalagi menuduh saudaranya sebagai Ahlul Bid'ah.

Menggelari Ahlus Sunnah sebagai ahlul bid'ah itu berdosa. Kenapa? Karena Ahlul Bid'ah menurut para ulama itu adalah Mu'tazilah, Khawarij, Murji'ah, Syi'ah (Rofidhoh), Jahmiyah dan aliran-aliran sesat lainnya. Sedangkan menggelari aliran sesat diatas sebagai ahlul bid'ah tidak semua ulama sepakat. Apalagi menggelari Ahlus Sunnah sebagai Ahlul Bid'ah hanya gara-gara berbeda pendapat. Na'udzubillah.

Adapun selain aliran diatas bukanlah termasuk Ahli Bid'ah.Aqidahnya Asy-ari misalnya atau Maturidi, maka bukanlah termasuk Ahlul Bid'ahkarena pedomannya sama-sama Al-Qur'an dan Hadist.

Sekarang begini : "Jika ada ikhwan datang melamar, paham Al-Qur'an dan Hadist serta paham hukum-hukum islam, dan aqidahnya lurus". Sementara dia bukanlah orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai kelompok tertentu. Apakah kemudian ditolak hanya gara-gara tidak semanhaj atau tidak ngaji ke ustadz yang sama?

Ini adalah orang yang tidak tau ilmu agama. Sedangkan di dalam hadist memerintahkan untuk menikahi lelaki yang sholeh dan berilmu agama.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi).

Masa tidak diterima? Masa lebih memilih yang se-manhaj sekalipun lelakinya awam? Kan ini sebuah kebatilan. Karena walaupun mengatasnamakan kelompok tertentu, jika dia awam terhadap agama, maka belum tentu bisa membawa kepada surga Allah kelak, karena dia tidak punya pegangan ilmu agama yang benar.

Sebaliknya, lelaki yang bukan satu kelompok dengannya tadi yang paham ilmu agama, dia beribadah dengan ilmu yang dia miliki dan dia tidak mudah disesatkan oleh siapapun karena sudah ada dasarnya yaitu ada pegangan ilmu agamanya. Bukan hanya ngaji sama ustadz ini, ngaji sama ustadz sana, dengar radio ini dan radio itu.

Bukan begitu ikhwah fillah. Menikah itu tolak ukurnya bukan manhaj atau kelompok. Tapi adalah maslahah-nya.

Kira-kira dengan menikah dengannya apa maslahah (manfaat) yang saya dapatkan darinya? Harus mengedepankan maslahah-nya bukan kelompoknya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka dia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al-Baihaqi).

Artinya untuk sampai kepada derajat menyempurnakan separoh agama itu tentunya ada yang bisa membimbing nya ke jalan yang di ridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Memang tidak bisa dipungkiri, menikah dengan yang sepemahaman dengan kita itu perlu, tapi bukan berarti jika bukan dari kelompok kita tidak mau menikah dengannya. Bukan begitu. Kecuali jika aqidahnya tidak lurus seperti dia mengatakan : "Semua agama itu benar dan masuk surga". Ketika menolak orang seperti ini, maka wajar.

Namun jika menolak karena bukan dari kelompoknya, padahal hanya karena berbeda pendapat saja dan para ulama mentoleransi perbuatan itu, maka tidak tepat menolak menikah dengannya.

Semoga bisa dipahami.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.