logo

Hukum Melafadzkan Niat Puasa | Konsultasi Muslim



Maraknya orang-orang yang berfatwa tanpa ilmu pada zaman sekarang ini bisa membahayakan banyak orang, bukan hanya membahayakan bahkan bisa menyesatkan orang-orang yang tidak mengetahui ilmu agama.

 

Oleh sebab itu sebagai seorang muslim tugas kita adalah menuntut ilmu agama dari jalan apapun.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

 

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim, hadist no. 2699).

 

Kenapa bisa mudah menuju surga?

 

Karena ketika dia berilmu bisa menghilangkan kebodohan di dalam dirinya dan dia tau mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga dia hanya mengerjakan yang benar saja dan meninggalkan yang salah sebab bisa mendatangkan murka Allah Subhanahu wa Ta'ala.

 

Apakah Niat Puasa (dalam Bahasa Arab) yang tersebar bagian dari Bid'ah?

 

Ada bacaan niat yang tersebar di masyarakat seperti ini :

 

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

 

Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta'ala.

 

Pada hakikatnya, kita diperintahkan untuk berniat di malam hari sebelum terbit fajar. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 

مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلا صِيَامَ لَهُ

 

Barangsiapa yang belum berniat untuk melakukan puasa sebelum fajar, maka dia tidak mendapatkan puasa. (HR. Tirmidzi, hadist no. 730).

 

Sebenarnya hal ini bukanlah bid'ah, karena ada dalil yang memerintahkan untuk berniat, sekalipun dalilnya umum. Dalilnya adalah dalil di atas yang memerintahkan kita untuk berniat. Dan selama ada dalil umum yang menerangkan suatu perbuatan, maka tidak dinamakan bid'ah karena ada dalilnya.

 

Begitu juga kebanyakan masyarakat kita sekarang tidaklah melafadzkan niat di atas. Memang niat puasa bisa apa saja dan bisa diucapkan didalam hati. Dan kebanyakan masyarakat melafadzkan niat puasa untuk mengajari anak-anak mereka yang masih kecil.

 

Maka kurang tepat jika melafadzkan niat puasa seperti diatas dikatakan bid'ah sebab ada dalil umum sebagai penopangnya. Dan masyarakat di Indonesia juga hampir tidak ada yang melafadzkan niat puasa.

 

Niat puasa bisa apapun, tidak perlu niat di atas. Hanya saja mereka ingin niat seperti diatas dan tidak meyakini lafadz di atas berasal dari hadist, dan tentunya tidak mengapa.

 

Begitupun melafadzkan niat dengan tujuan mengajarkan anak-anak niat puasa, maka diperbolehkan.

 

Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :

 

الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما

 

Hukum itu berputar bersama illat (sebabnya), baik ketika illatnya ada maupun ketika tidak ada.

 

Jadi, melafadzkan tidaklah masalah karena ada dalil umum yang memerintahkan untuk berniat. Selama ada dalil yang menerangkan suatu amalan, maka bukan termasuk bid'ah.

 

Yang tidak boleh itu adalah jika dia menganggap lafadz niat di atas bagian dari hadist ataupun lafadz yang harus bahkan wajib dibaca dan dilafadzkan, maka ini yang tidak boleh dan dilarang di dalam Islam.

 

Di dalam kitab I'anatut Tholibin disebutkan :

 

النيات با لقلب ولا يشترط التلفظ بها بل يندب

 

Niat itu dengan hati, dan tidak disyaratkan mengucapkannya. Tetapi mengucapkan niat itu disunahkan. (I'anatut Tholibin halaman 221).

 

Islam itu mudah, tapi para pemeluknyalah yang menjadikan Islam itu menjadi sempit dan rumit.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

إِنَّ الدِّيْن يُسْرٌ، وَلَن يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

 

Sesungguhnya agama ini mudah. Tidak ada seorang pun yang mempersulit agama melainkan dia akan dikalahkannya. (HR. Bukhari, hadist no. 6463).

 

Orang yang hanya sibuk dengan amalan orang lain, sebenarnya dia bermasalah dalam menjalani hidup. Dan bisa saja apa yang dia pelajari tidak menjadikan dia bisa berakhlak baik dan bisa menghormati orang lain, dan pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri.

 

Semoga bermanfaat.

 

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.